Meskipun jumlah hewan kurban terbatas, pihak manajemen lapas menjamin bahwa semua penghuni blok hunian akan menerima hak yang sama.
”Kami membagikan seluruh daging kurban ini secara merata kepada seluruh warga binaan dan petugas lapas tanpa terkecuali,” tegas Supriyanto.
Secara filosofis, ibadah kurban di dalam lapas ini memuat makna spiritual dan sosial yang sangat mendalam.
Kegiatan ini berhasil menyimbolkan pengorbanan ego serta ketulusan untuk saling berbagi.
Dengan demikian, sepiring hidangan daging kurban sanggup melebur sekat pembatas antara para pelanggar hukum dan aparat penegak hukum.
Oleh karena itu, momentum Iduladha ini menjadi sarana refleksi yang kuat bagi warga binaan untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim.
Pada akhirnya, esensi kurban ini mengirimkan pesan kemanusiaan yang jelas: bahwa kebahagiaan hari raya merupakan hak milik semua orang.
Termasuk mereka yang sedang mendekam di balik jeruji besi untuk memperbaiki diri.














