Menariknya, lagu-lagu di album ini juga melibatkan kolaborasi dengan deretan artis papan atas nasional.
”Saya merasa senang dan bangga karena karya narapidana bisa dinyanyikan oleh artis-artis papan atas. Ternyata narapidana tidak jelek-jelek amat. Mereka berkarya dan punya talenta yang harus kita hargai serta kembangkan di sini,” tambahnya.
Mengubah Stigma Penjara Lewat Nada dan Kreativitas
Supriyanto menjelaskan bahwa lagu “Untuk Indonesia” membawa pesan mendalam tentang perubahan identitas.
Lagu ini menyuarakan kenyataan bahwa hidup di dalam Lapas sama sekali tidak mematikan kreativitas mereka.
”Lagu itu bercerita bahwa di Lapas itu mereka tidak dikebiri penjarakan, ternyata masih bisa berkarya dan suara mereka didengar. Kreativitas itu tidak ada batasnya, di penjara pun bisa terbuka untuk siapa saja,” jelasnya.
Lebih lanjut, Supriyanto membeberkan bahwa lagu-lagu di album ini lahir dari tangan dingin seorang warga binaan yang memang hobi menciptakan lagu, berkolaborasi dengan Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP).
Selain meluncurkan album, Lapas Ciamis juga memanfaatkan momen ini untuk memamerkan produk hasil karya kemandirian warga binaan, mulai dari alat pancing beserta kelengkapannya hingga produk roti.
Program pembinaan kemandirian ini berjalan sukses berkat kerja sama dengan komunitas Insan Residivis Ciamis.
Di akhir wawancara, Supriyanto mengajak seluruh lapisan masyarakat dan media massa untuk mengubah pandangan negatif terhadap Lapas.
”Mari kita sama-sama membumikan bahwa penjara itu bukan tempat penyiksaan, melainkan tempat pembinaan, kemandirian, dan kreativitas. Jangan jadikan penjara sebagai momok. Semua orang pernah salah, tapi kami yakin setelah keluar nanti mereka akan mempunyai talenta untuk berkembang menjadi lebih baik dari kemarin,” pungkasnya.














