Dengan mekanisme tersebut, penanganan dapat berjalan lebih cepat.
Petugas bisa melakukan asesmen segera setelah menerima laporan, sementara pemerintah desa melengkapi dokumen administrasinya.
Ani menegaskan tidak ada persyaratan khusus bagi desa yang benar-benar mengalami kekeringan.
“Kalau memang sudah kekeringan, kita siap untuk bantu,” katanya.
Kebijakan tersebut menjadi penting di tengah musim kemarau.
Sebab, kebutuhan air bersih warga bisa meningkat ketika sumber air seperti sumur mulai mengering.
Salah satu wilayah yang kini mendapat perhatian ialah Desa Wangunjaya, Kecamatan Cisaga.
Di wilayah tersebut, warga mulai mengandalkan droping air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
BPBD bersama pemerintah daerah, PDAM, kepolisian, dan pihak terkait terus menyalurkan air ke sejumlah titik terdampak.
Selain bantuan darurat, pemerintah juga mulai mendorong penyediaan tandon dan mencari sumber air yang dapat dimanfaatkan warga untuk menghadapi kekeringan dalam jangka panjang.
Dengan begitu, penanganan tidak berhenti pada pengiriman air.
Pemerintah diharapkan bisa memastikan masyarakat memiliki akses air yang lebih aman ketika musim kemarau kembali melanda.














