“Kalau kita bicara swasembada pangan, tidak mungkin tidak didukung infrastruktur sampai jaringan air. Tidak mungkin bicara ketahanan pangan kalau tidak ada solusi untuk ketersediaan air,” katanya.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Desa
Bagi Asep, persoalan 30 hektare sawah di Pamalayan menggambarkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai produksi.
Ketersediaan air menjadi salah satu faktor mendasar agar petani bisa terus menanam.
Jika lahan pertanian kehilangan pasokan air, produktivitas ikut terganggu.
Pada akhirnya, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi rantai pasokan pangan masyarakat.
Karena itu, Asep ingin aspirasi warga tidak berhenti pada forum reses. Ia berencana membawa persoalan tersebut ke tingkat DPRD agar dapat dibicarakan bersama pihak terkait.
Langkah tersebut dinilai penting karena penyelesaian masalah air membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah hingga instansi teknis yang menangani infrastruktur pertanian.
Berkaitan dengan Pasokan MBG
Persoalan pertanian di Pamalayan juga memiliki kaitan dengan aspirasi lain yang disampaikan dalam reses, yakni kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Asep menilai program tersebut seharusnya dapat menjadi peluang bagi petani dan pelaku usaha lokal untuk memasok kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Menurutnya, bahan pangan yang tersedia di Ciamis semestinya dapat diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan program tersebut sehingga manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat daerah.
“Untuk memenuhi kebutuhan pokok yang bisa disuplai masyarakat sekitar, jangan mengambil dari luar daerah seperti Banjar dan lainnya hanya untuk mencari keuntungan lebih,” ujarnya.
Ia juga mendorong Koperasi Desa Merah Putih mengambil peran dalam rantai pasokan tersebut.
Koperasi dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan dapur MBG sekaligus mencari produk yang bisa dipenuhi masyarakat sekitar.
Dengan begitu, program MBG diharapkan tidak hanya memberikan asupan gizi bagi anak-anak, tetapi juga membuka pasar bagi produk pertanian masyarakat.
“Tujuan baik dengan cara baik sehingga dapat hasil baik. Anak jadi terpenuhi gizinya, mengurangi stunting. Kita wajib dukung itu,” kata Asep.
Warga Ingin Sawah Kembali Produktif
Sementara itu, Agus berharap aspirasi yang disampaikan dalam reses benar-benar ditindaklanjuti.
Ia ingin 30 hektare sawah yang selama ini sulit mendapatkan air kembali bisa dimanfaatkan.
Sebab, keberadaan lahan tersebut dinilai terlalu sayang jika dibiarkan tidak produktif.
Dengan total lahan pertanian sekitar 100 hektare, Desa Pamalayan sebenarnya memiliki potensi besar dalam mendukung sektor pangan.
Namun, potensi itu belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan karena persoalan ketersediaan air.
Kini, warga menunggu langkah lanjutan setelah aspirasi tersebut disampaikan. Harapannya sederhana: air bisa mengalir dan 30 hektare sawah kembali menghasilkan.














