“Untuk memenuhi kebutuhan pokok yang bisa disuplai masyarakat sekitar, jangan mengambil dari luar daerah seperti Banjar dan lainnya hanya untuk mencari keuntungan lebih,” ujarnya.
Asep juga mendorong Koperasi Desa Merah Putih mengambil peran dalam rantai pasokan tersebut.
Koperasi dapat membantu mencari dan menghubungkan berbagai kebutuhan dapur MBG dengan produk yang dihasilkan masyarakat.
Dengan demikian, program MBG tidak hanya memberikan makanan bergizi bagi anak-anak, tetapi juga membuka pasar bagi petani dan pelaku usaha lokal.
“Bagaimanapun program ini tujuannya sangat baik. Tujuan baik dengan cara baik sehingga dapat hasil baik. Anak jadi terpenuhi gizinya, mengurangi stunting, kita wajib dukung itu,” kata Asep.
Pendidikan dan Gadget Anak Jadi Sorotan
Persoalan pendidikan juga menjadi bagian dari aspirasi yang disampaikan masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian ialah bullying atau perundungan di lingkungan pendidikan.
Asep menilai perundungan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.
Menurutnya, lingkungan pendidikan seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar dan berkembang.
“Bullying pendidikan ini adalah suatu hal yang sangat memprihatinkan buat kita. Sebagai orang tua, sebagai masyarakat, ini tidak boleh terjadi di mana pun termasuk yang ada di Pamalayan,” ujarnya.
Selain bullying, penggunaan gadget dan media sosial oleh anak turut menjadi perhatian.
Asep mengatakan persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah.
Orang tua, masyarakat, dan tenaga pendidik harus bersama-sama mengawasi sekaligus memberikan pemahaman kepada anak.
“Ini urusan bersama. Bukan hanya urusannya masyarakat, bukan hanya urusannya warga, bukan hanya urusannya pendidik, tapi urusan kita semua bagaimana mencari solusi bahwa anak-anak itu tidak lagi menjadi ketergantungan terhadap gadget,” katanya.
Ia menyebut pembatasan penggunaan HP di sekolah sudah diterapkan di sejumlah tempat.
Ada sekolah yang mengatur waktu penggunaan HP, bahkan ada yang melarang siswa menggunakan telepon seluler selama berada di lingkungan sekolah.
Namun, Asep menilai solusi tidak cukup hanya dengan melarang.
Anak juga perlu mendapatkan pemahaman agar mampu menggunakan teknologi secara bijak tanpa harus tertinggal perkembangan zaman.
“Nanti akan didiskusikan lebih lanjut bagaimana kita membuat instrumen, karena dengan instrumen aturan yang akan membawa perubahan ini, nanti akan dibawa ke tingkat yang selanjutnya,” ucapnya.
Melalui reses tersebut, berbagai persoalan warga Pamalayan kini menjadi catatan Asep Rahmat.
Ia memastikan aspirasi yang disampaikan masyarakat akan menjadi bahan pembahasan lebih lanjut di DPRD Kabupaten Ciamis.
Bagi Asep, menyerap aspirasi bukan sekadar mendengar keluhan.
Persoalan yang muncul di tengah masyarakat perlu ditindaklanjuti agar dapat menemukan solusi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.














