Tanpa menggunakan sepeser pun dana pemerintah, perputaran uang yang bersumber dari donasi mandiri warga sanggup menyentuh angka puluhan juta rupiah.
”Sekarang di titik ini saja, Rp 50 juta sampai Rp 70 juta tidak akan kurang. Itu murni gotong royong, tidak dicatat dan tidak masuk APBD,” imbuh Herdiat.
Budaya Gotong Royong Mulai Langkah di Kota Besar
Lebih lanjut, Herdiat juga membandingkan fenomena sosial ini dengan wilayah lain.
Menurutnya, kota-kota besar saat ini mulai kehilangan jati diri dan budaya saling membantu tersebut. Sebaliknya, Ciamis justru mempertahankan tradisi ini dengan sangat baik.
”Di kabupaten atau kota besar lain, peran serta masyarakat dan gotong royong hampir sudah tidak ada. Tapi di Ciamis, ini luar biasa. Urusan kebersihan saja, kalau saya keliling pinggir jalan, ibu-ibu, anak-anak, hingga pemuda kompak bebersih. Itu kalau dihitung sudah berapa miliar se-kabupaten,” tuturnya.
Oleh karena itu, di tengah momentum Hari Jadi Kabupaten Ciamis ke-384 yang mengusung tema ‘Guyub Ngawangun Galuh’, Herdiat juga mengajak semua pihak untuk menjadikan keterbatasan anggaran sebagai pemantik semangat, bukan hambatan.
”Intinya kita semua, kalaupun APBD kita kecil, harus tetap semangat membangun Galuh sama-sama. Insyaallah apa yang kita cita-citakan akan terwujud dan dikabulkan oleh Allah SWT,” pungkas Herdiat.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pergerakan swadaya tersebut, Herdiat juga menyalurkan bantuan tambahan sebanyak 160 paket sembako yang bersumber dari stok Baznas Ciamis.














