banner 720x220

Ciamis Terima 37 Alsintan, Bupati Herdiat Ingatkan Petani Tak Menjual atau Menggadaikan Bantuan

Sebanyak 37 Alsintan disalurkan ke kelompok tani Ciamis melalui aspirasi dari Rina Sa'adah. (Dok, foto. Kondusif.com)
Sebanyak 37 Alsintan disalurkan ke kelompok tani Ciamis melalui aspirasi dari Rina Sa'adah. (Dok, foto. Kondusif.com)

CIAMIS,Kondusif.com – Pemerintah Kabupaten Ciamis menyalurkan 37 unit alat mesin pertanian (alsintan) prapanen kepada kelompok tani untuk mendukung produksi pertanian di tengah kemarau berkepanjangan.

Bantuan tersebut terdiri atas 12 unit traktor roda dua berkapasitas 8,5 horsepower (HP) dan 25 unit pompa air berukuran 3 inci.

Penyaluran berlangsung di Aula Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis, Senin, 21 September 2026.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis, Ape Ruswandana, mengatakan bantuan tersebut diberikan kepada 37 kelompok tani.

Bantuan berasal dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) Kementerian Pertanian melalui aspirasi masyarakat yang disampaikan anggota Komisi IV DPR RI, Rina Sa’adah.

Menurut Ape, penyaluran alsintan itu mengacu pada sejumlah regulasi, termasuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan serta petunjuk teknis pengadaan dan penyaluran bantuan alsintan dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian.

“Tujuan kegiatan ini adalah mendistribusikan alsintan prapanen kepada 37 kelompok tani,” kata Ape dalam laporannya.

Penyaluran bantuan itu diikuti sekitar 60 peserta.

Mereka terdiri atas 45 petani penerima bantuan serta 15 petugas dari tingkat kecamatan dan kabupaten.

Pompa untuk menghadapi kekeringan

Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengatakan bantuan pompa memiliki arti penting bagi petani karena wilayah Ciamis menghadapi kemarau yang berlangsung cukup panjang.

Ia menyebut hujan tidak turun selama hampir lima bulan di sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut membuat ketersediaan air untuk lahan pertanian semakin terbatas.

Karena itu, Herdiat meminta petani memanfaatkan pompa untuk mengambil air dari sumber yang masih tersedia dan mengalirkannya ke sawah maupun kebun.

“Manfaatkan pompanisasi, sedot airnya dari sungai untuk menyiram sawah atau kebun masyarakat,” ujar Herdiat.

Menurut dia, kondisi sejumlah sungai juga mulai berubah akibat berkurangnya pasokan air.

Ia mencontohkan Sungai Cikadongdong yang selama ini dikenal tidak pernah surut, tetapi kini mengalami penyusutan debit.

Herdiat kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan pentingnya menjaga lingkungan.

Ia meminta kelompok tani ikut melakukan penghijauan dan menjaga kawasan hutan agar keberlanjutan pertanian tidak terganggu pada masa mendatang.

“Titip penghijauan kepada bapak dan ibu agar pertanian berkelanjutan. Kalau hutan tidak dirawat, dampaknya kepada kita 10 sampai 20 tahun yang akan datang,” katanya.

Selain membantu menghadapi kekeringan, Herdiat berharap alsintan mempercepat modernisasi pertanian.

Menurut dia, petani tidak lagi bisa sepenuhnya mengandalkan tenaga manual.

Bantuan tersebut, kata dia, harus digunakan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap tenaga manusia.

“Jangan hanya mengandalkan tenaga manual, tetapi harus belajar beralih dari manual ke digital, ke mesin sehingga dapat membantu tenaga manusia,” ujar Herdiat.

Ia juga mengingatkan kelompok tani agar tidak menjual ataupun menggadaikan bantuan yang telah diterima.

Pemerintah siapkan dukungan irigasi

Di sisi lain, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Ciamis mencatat sejumlah program infrastruktur pertanian yang sedang berjalan pada 2026.

Untuk rehabilitasi perpompaan, terdapat sekitar 187 unit kegiatan.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *