banner 720x220

“KH Moch Ali Berpulang, Tanjungmanggu Kehilangan Penjaga Tradisi Keilmuan Pesantren”

CIAMIS,Kondusif.com – Kabupaten Ciamis kembali kehilangan salah seorang ulama yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya dalam sunyi, menjaga tradisi keilmuan pesantren dan merawat warisan syiar Islam yang diwariskan para pendahulu.

KH Moch Ali bin Mama Sulaiman Jamal, pengasuh Pondok Pesantren Tanjungmanggu, Sindangrasa, Kabupaten Ciamis, berpulang ke rahmatullah pada Kamis (10/9/2026) pukul 19.00 WIB.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para santri dan masyarakat yang selama ini mengenal sosoknya sebagai kiai yang teguh memegang tradisi keilmuan pesantren.

KH Moch Ali bukan sosok ulama yang gemar mencari panggung. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di lingkungan pesantren, mengajar, mengaji dan mendampingi para santri. Ia memilih jalan pengabdian yang sederhana, tetapi memiliki jejak panjang dalam kehidupan keilmuan Islam di Tanjungmanggu.

Sebutan “ulama ortodoks” yang melekat pada dirinya lebih tepat dipahami sebagai gambaran keteguhan dalam mempertahankan tradisi keilmuan Islam klasik. Bukan berarti menutup diri dari perkembangan zaman, melainkan sebuah pilihan untuk tetap merawat khazanah ilmu yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Pondok Pesantren Tanjungmanggu sendiri memiliki sejarah panjang. Pesantren yang disebut berdiri sejak 1825 Masehi itu dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan keagamaan di Ciamis yang tetap mempertahankan pola pendidikan pesantren tradisional.

Kitab kuning menjadi bagian utama kehidupan belajar para santri. Pendidikan berlangsung melalui hubungan langsung antara kiai, kitab dan santri, dengan tradisi mengaji sebagai napas utama kehidupan pesantren.

Di tengah tradisi panjang tersebut, KH Moch Ali menjadi salah satu sosok yang ikut menjaga keberlangsungannya.

Namun, warisan keilmuan Tanjungmanggu tidak berhenti pada kajian kitab kuning. Ilmu Falak dan Tasawuf turut menjadi bagian dari khazanah yang dipertahankan. KH Moch Ali dikenal memiliki kedalaman dalam kajian Tasawuf dan Mantiq.

Cara pandangnya terhadap persoalan keagamaan juga menjadi ciri khas tersendiri. Ia tidak hanya mengajak santri memahami agama melalui teks, tetapi juga mengajarkan pentingnya menggunakan nalar dan logika, tanpa meninggalkan dimensi spiritual.

Bagi para santri, KH Moch Ali bukan sekadar guru yang menyampaikan pelajaran dari balik mimbar atau majelis pengajian.

Ia mampu membangun kedekatan dengan santri. Gaya bicaranya yang humoris kerap membuat suasana pengajian terasa cair. Namun, di balik sikap tersebut, terdapat ketegasan ketika berbicara mengenai prinsip keagamaan dan persoalan yang membutuhkan pendirian.

Perpaduan antara kedalaman ilmu, logika dan spiritualitas itulah yang membuat sosok KH Moch Ali memiliki tempat tersendiri di hati para santrinya.

Ia juga dikenal tidak tergesa-gesa ketika memberikan pandangan keagamaan. Sebuah persoalan terlebih dahulu dipahami sebelum jawaban diberikan. Bagi para santri, nasihat seorang kiai bukan hanya jawaban atas sebuah pertanyaan, tetapi juga bekal untuk memahami kehidupan.

Kini, suara tersebut telah berhenti.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *