banner 720x220

Ironi Sawah Pamalayan Ciamis: 30 Hektare Tak Terairi di Tengah 100 Hektare Lahan

Ciamis,Kondusif.com,- Hamparan lahan pertanian di Desa Pamalayan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, menyimpan persoalan. Dari sekitar 100 hektare lahan pertanian yang ada, sekitar 30 hektare di antaranya hingga kini tak terairi.

Kondisi itu menjadi salah satu aspirasi warga yang disampaikan kepada Anggota DPRD Kabupaten Ciamis Asep Rahmat saat menggelar Reses II Tahun Sidang 2026 di Aula Desa Pamalayan, Kamis (27/8/2026).

Persoalan air tersebut bukan sekadar soal sawah yang kekeringan.

Bagi warga, lahan seluas 30 hektare itu merupakan potensi pertanian yang semestinya bisa kembali produktif dan menopang kebutuhan pangan.

Kepala Desa Pamalayan Agus Lutfi Mansur mengatakan kondisi lahan tersebut sudah berlangsung cukup lama.

Sementara itu, lahan pertanian lainnya di Desa Pamalayan relatif bisa mendapatkan pasokan air.

“Harapan kami bagaimanapun caranya, sawah yang 30 hektare itu bisa produktif lagi. Kan sayang ya, ini kita ada sekitar 100 hektare. Nah, yang lainnya bisa, ada airnya,” kata Agus seusai kegiatan reses.

Menurut Agus, persoalan tersebut tergolong serius karena lahan seluas 30 hektare itu benar-benar kesulitan mendapatkan air.

“Yang 30 hektare itu total, asli total. Mau hujan segede apa pun tidak ngaruh,” ujarnya.

Lahan Produktif Terkendala Air

Aspirasi tersebut mendapat perhatian Asep Rahmat.

Ia menilai persoalan lahan produktif yang terkendala ketersediaan air harus segera dicarikan jalan keluar.

Menurut Asep, sektor pertanian memiliki peran penting dalam menjaga pasokan pangan masyarakat.

Karena itu, lahan yang sebenarnya masih produktif tidak boleh dibiarkan kehilangan fungsi hanya karena persoalan air.

“Ini kan sebuah kejadian alam sebetulnya, di mana daerah-daerah itu ada yang rawan, lahan produktif tapi rawan air,” kata Asep.

Ia mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang akan dibawa ke forum DPRD Kabupaten Ciamis.

Selanjutnya, aspirasi warga akan dibahas untuk mencari solusi yang dapat diterapkan di lapangan.

“Apa yang menjadi keluhan warga, khususnya lahan produktif pertanian yang mana itu akan menjadi suplai pangan kepada masyarakat, masyarakat bisa bertanam, bisa bertani, sehingga terkendala karena masalah alam yaitu kemarau,” ujarnya.

Asep menegaskan persoalan air tidak bisa dipandang sebelah mata.

Terlebih, pemerintah tengah mendorong penguatan ketahanan pangan dan swasembada pangan.

Menurutnya, upaya meningkatkan produksi pertanian harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur pendukung, terutama jaringan air dan irigasi.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *