CIAMIS,Kondusif.com,- Orang-orangan sawah biasanya hanya berupa boneka sederhana yang berdiri diam di tengah hamparan padi. Namun, Kelompok Tani Balebat 4 di Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, mencoba membuatnya lebih “hidup”.
Mereka mengembangkan robot Bebegig berbasis teknologi Internet of Things (IoT) untuk membantu mengusir burung yang menyerang tanaman padi.
Inovasi itu kemudian menarik perhatian Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.
Rombongan dari Hulu Sungai Utara datang ke Desa Dewasari pada Senin, 24 Agustus 2026, untuk mempelajari langsung penerapan smart farming tersebut.
Mereka mengikuti studi banding yang berlangsung di Aula Desa Dewasari sejak sekitar pukul 09.45 WIB.
Kunjungan itu menjadi ruang bertukar pengalaman antara petani Ciamis dan pemerintah daerah dari Kalimantan Selatan.
Mereka membahas bagaimana teknologi sederhana dapat digunakan untuk menghadapi salah satu gangguan yang kerap dihadapi petani padi, yakni serangan burung.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Rudi Mandala.
Bersama Kelompok Tani Balebat 4, ia mencoba memanfaatkan teknologi untuk membuat metode pengendalian hama menjadi lebih efektif.
Dari Orang-orangan Sawah ke Smart Farming
Selama ini, petani mengandalkan berbagai cara untuk mengusir burung dari sawah.
Namun, cara-cara konvensional memiliki keterbatasan karena burung dapat beradaptasi ketika menemukan pola yang sama berulang kali.
Di titik itulah teknologi mulai dimanfaatkan.
Robot Bebegig yang dikembangkan Kelompok Tani Balebat 4 menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan di sawah dapat dicari solusinya melalui inovasi.
Teknologi tersebut digunakan untuk membantu mengurangi gangguan burung di area persawahan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara Akhmad Rijani bersama rombongan pun datang untuk melihat dan mempelajari penerapan teknologi tersebut.
Bagi petani, inovasi semacam ini bukan sekadar soal menggunakan perangkat teknologi.
Ada persoalan praktis yang ingin dijawab: bagaimana menjaga tanaman tetap tumbuh tanpa harus terus-menerus melakukan pengendalian hama secara manual.
Kapolres Ciamis AKBP Eko Iskandar melalui Kapolsek Cijeungjing AKP Purwanto mengatakan inovasi yang dikembangkan petani Desa Dewasari layak mendapat perhatian karena berangkat dari persoalan nyata di lapangan.
“Polri mendukung setiap kegiatan positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Inovasi smart farming seperti yang diterapkan Kelompok Tani Balebat 4 merupakan hal yang baik untuk dikembangkan, karena dapat membantu petani dalam mengatasi permasalahan hama sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pertanian,” ujar Purwanto.
Teknologi Pertanian Tak Harus Rumit
Studi banding tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus lahir dari perusahaan teknologi atau lembaga penelitian besar.
Petani di tingkat desa pun dapat menemukan solusi berdasarkan persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.














