Sebagai komitmen nyata, Dedi juga berencana mengambil alih (takeover) perbaikan jalan-jalan desa di wilayah Kawali oleh Pemerintah Provinsi.
Selain itu, kawasan Astana Gede juga akan dipugar agar kembali ke jati diri asalnya sebagai pusat peradaban Kerajaan Galuh.
”Kita tata, kita hiasi, kita beri lampu. Kawali harus balik ke diri sendiri! Jangan sampai ada lagi kabar di media sosial kalau Kawali itu sepi peminat,” tambahnya.
Estafet Budaya: Menuju ‘Pajajaran Anyar’
Rangkaian Kirab Mahkota Binokasih juga merupakan perjalanan panjang melintasi sejarah Jawa Barat.
Setelah memulai prosesi di Sumedang pada 2 Mei dan Kawali pada 3 Mei, rombongan juga dijadwalkan menuju Kampung Naga, Tasikmalaya, pada Senin (4/5/2026).
Misi maraton budaya ini juga akan terus bergerak menyambangi titik-titik bersejarah lainnya:
- Cianjur: Menuju Gedung Karesidenan.
- Bogor: Dari Batutulis menuju Kebun Raya Bogor.
- Depok: Mengangkat kawasan heritage lama.
- Karawang: Menuju Pesantren Syekh Quro.
- Cirebon (Puncak): Berakhir di Kasepuhan Cirebon.

Dedi memaparkan bahwa misi utama dari kegiatan ini adalah edukasi sejarah secara langsung agar masyarakat memahami akar budayanya, mulai dari era Galuh hingga Kesultanan Cirebon.
”Maknanya cuma satu: mengingatkan kembali sejarah lama tentang Sunda. Kita ingin Pajajaran Anyar (Pajajaran Baru) lahir dengan semangat persatuan,” pungkasnya sebelum menutup acara dengan sapaan khas, “Sampurasun!”














