Sanksi tersebut merupakan konsekuensi dari keputusan disipliner AFC atas insiden yang terjadi ketika PERSIB menghadapi Ratchaburi FC pada ACL Two musim lalu.
PERSIB menyatakan menghormati regulasi dan keputusan AFC. Klub juga menjadikan sanksi tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki standar profesionalisme serta kualitas penyelenggaraan pertandingan.
Bagi PERSIB, bermain tanpa Bobotoh jelas bukan situasi yang diinginkan.
Dukungan langsung dari tribun selama ini menjadi salah satu energi penting bagi tim, terlebih ketika berlaga di kompetisi Asia.
Meski begitu, klub meminta Bobotoh tetap memberikan dukungan dari luar stadion.
Dukungan tersebut dapat disalurkan melalui cara-cara positif sehingga semangat tim tetap terjaga.
Manajemen memahami keinginan Bobotoh untuk selalu berada di sisi PERSIB, termasuk ketika tim berlaga di level Asia.
Namun, kali ini mereka harus menyaksikan pertandingan dari luar stadion.
PERSIB Bidik Tiket ke Fase Berikutnya
Situasi tersebut tidak boleh mengurangi ambisi PERSIB.
Tim tetap dituntut tampil maksimal saat menghadapi Manila Digger untuk menjaga peluang melangkah ke fase berikutnya ACL Two 2026/2027.
Perubahan venue dan absennya penonton di tribun tidak mengubah target PERSIB untuk meraih hasil terbaik.
Sebaliknya, pertandingan tersebut menjadi kesempatan bagi Pangeran Biru menunjukkan kesiapan mereka bersaing di level Asia.
PERSIB juga menegaskan akan menjalankan pertandingan dengan penuh tanggung jawab serta tetap menghormati regulasi AFC.
Dengan begitu, laga kontra Manila Digger bukan hanya menjadi pintu menuju fase berikutnya ACL Two.
Pertandingan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya PERSIB menjaga nama Bandung dan Indonesia di kompetisi Asia.














