Namun, hukuman larangan mendampingi tim dalam pertandingan tandang berbeda.
Suporter PSGC Ciamis dilarang menghadiri satu pertandingan tandang.
Adapun suporter PSIS Semarang harus menerima larangan menghadiri enam pertandingan tandang.
Perbedaan durasi hukuman tersebut membuat pendukung PSIS menghadapi pembatasan yang lebih panjang dalam mendampingi timnya saat berlaga di kandang lawan.
Untuk sanksi terhadap klub, keputusan Komdis PSSI menyebutkan bahwa PSGC Ciamis masih dapat mengajukan banding sesuai Pasal 117 Kode Disiplin PSSI.
PSGC Terima Keputusan Komdis PSSI
Melalui unggahan di akun Instagram resminya, dikutip Rabu, 21 Oktober 2026, PSGC Ciamis menyatakan menghormati dan menerima keputusan Komdis PSSI sebagai bahan pembelajaran untuk memperbaiki penyelenggaraan pertandingan ke depan.
PSGC juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang terjadi dalam pertandingan melawan PSIS Semarang.
Klub tersebut menyampaikan simpati kepada seluruh pihak yang terdampak.
Manajemen PSGC menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan yang membahayakan keselamatan orang lain tidak dapat dibenarkan.
Karena itu, PSGC menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang terdampak dan berkomitmen menjunjung tinggi sportivitas.
Klub juga menyatakan mendukung terciptanya iklim sepak bola yang aman bagi semua pihak.
Sikap tersebut disampaikan setelah pertandingan pekan keenam Pegadaian Championship 2026–2027 antara PSGC dan PSIS berakhir imbang tanpa gol.
Laga Disaksikan 10.921 Penonton
Sebelum insiden tersebut berujung pada sanksi, PSGC Ciamis dan PSIS Semarang bermain imbang 0-0 di Stadion Galuh, Sabtu malam, 17 Oktober 2026.
Sebanyak 10.921 penonton menyaksikan pertandingan tersebut. Kedua tim saling melancarkan serangan sepanjang laga, tetapi tidak mampu mencetak gol hingga peluit panjang berbunyi.
Hasil imbang membuat kedua tim harus berbagi poin. Namun, keributan suporter yang terjadi dalam dan setelah pertandingan kemudian menjadi persoalan di luar lapangan.
Sanksi dari Komdis PSSI menjadi pengingat bahwa keamanan pertandingan merupakan tanggung jawab bersama.
Klub, panitia pelaksana, dan suporter perlu menjaga ketertiban agar kompetisi sepak bola berlangsung aman serta tidak menimbulkan dampak bagi pemain maupun pihak lain.














