Setelah anak buah dan para pembina Pramuka paham teknisnya, ia langsung menyerahkan tongkat estafet pelaksanaan kepada mereka melalui sistem pelatihan.
”Setelah satu kali diajarkan, ya sudah, satu kali saja. Nah di Pramuka itu saya men-Training of Trainer (ToT). Saya latih sekian orang, pengetahuannya saya transfer kepada pelatih dan pembina, lalu mereka jalan. Setelah itu saya tinggal directing (mengarahkan) dan mengawasi saja,” jelasnya.
Menolak Jadi Standar Teladan
Meski memiliki etos kerja yang gesit dan mampu membagi peran di banyak organisasi, pria yang akrab disapa Kang Nanang ini justru menunjukkan sikap yang sangat rendah hati.
Saat ditanya apakah prinsip hidup dan ritme kerjanya ini bisa menjadi acuan bagi kepala daerah atau pemimpin lain, ia langsung menolaknya.
Sambil merendah, ia merasa dirinya masih jauh dari kata sempurna untuk dijadikan sebagai figur percontohan.
”Kalau itu mah tidak bisa saya jawab, karena saya tidak boleh menjadi standar bagi yang lain. Potensinya berbeda, latar belakang perjalanan hidupnya juga berbeda. Kita hanya boleh mengejar standar Nabi Muhammad SAW. Lamun kok ku dosa saya teh, tidak layak dijadikan teladan,” ucap Nanang tulus.
Bagi Nanang, setiap organisasi yang ia pimpin adalah wadah kolektif-kolegial.
Fleksibilitas dirinya yang bisa membagi waktu antara meja sidang parlemen, urusan umat di PUI, konsolidasi partai, hingga urusan tanah sawah di Pramuka, semua bermuara pada satu prinsip dasar kepemimpinan.
”Pekerjaan ini akan berat apabila semuanya dilakukan oleh saya sendirian. Pemimpin yang bagus itu dia akan mempercayai staf, memercayai anak-anak, dan teman-teman yang lainnya untuk bergerak bersama,” pungkasnya.














