Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Ia bercermin pada pengalaman saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu.
Kala itu, menu nasi goreng telur yang dibagikan kepada 36 juta penerima manfaat langsung membuat pasar berguncang.
”Hari itu kita butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Efeknya, harga telur di pasar sempat naik sampai Rp 3.000,” ungkap Dadan.
Berdayakan Pangan Lokal
Belajar dari kejadian tersebut, BGN juga kini memilih pendekatan yang lebih fleksibel.
Alih-alih mendikte menu dari pusat, BGN justru mendorong setiap daerah untuk memanfaatkan potensi sumber daya lokal masing-masing.
”Kita ingin memberdayakan potensi lokal dan menyesuaikan kesukaan masyarakat di tiap daerah. Tujuannya agar tekanan terhadap konsumsi satu bahan pangan tidak terlalu tinggi,” tuturnya.
Dadan juga mengunci penjelasannya dengan komitmen untuk menjaga stabilitas harga pangan.
“Kalau kita perintahkan menu nasional seragam, pasti tekanannya tinggi dan harga-harga bakal naik,” pungkasnya.














