Bahasa Indonesia punya kemampuan alami untuk menerima perubahan tanpa kehilangan jati dirinya.
Ia seperti air, bisa menyesuaikan bentuk wadah, tapi tetap jernih di dasarnya.
Bahasa yang Mengajarkan Cara Berpikir
Bahasa bukan cuma kumpulan kata. Ia membentuk cara kita melihat dunia.
Dalam bahasa Indonesia, misalnya, kata “nanti” bisa berarti lima menit lagi, besok, atau bahkan tidak sama sekali. Satu kata, tapi bisa memuat makna waktu yang sangat luas.
Begitu juga dengan “bisa” dan “mampu.” Sekilas sama, tapi sebenarnya berbeda. “Bisa” berarti ada kemungkinan.
“Mampu” berarti punya kekuatan untuk melakukannya.
Dari hal-hal kecil seperti ini, kita belajar bahwa bahasa punya logika dan rasa yang berjalan berdampingan.
Bahasa adalah wajah bangsa. Cara kita berbicara mencerminkan siapa kita sebenarnya.
Kalau kita sopan dan jujur dalam bertutur, bahasa itu akan memantulkan kebaikan.
Tapi kalau penuh kemarahan dan kebencian, pantulan itu akan buram.
Menjaga bahasa berarti menjaga hati. Setiap kata yang keluar dari mulut atau jari kita di media sosial adalah bagian dari jati diri.
Mungkin terdengar sepele, tapi dari sanalah nilai-nilai kemanusiaan tumbuh dan bertahan.
Bahasa Indonesia tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pergaulan, perjuangan, dan rasa ingin bersama.
Ia lembut, tapi tegas. Ia sederhana, tapi sarat makna.
Dan mungkin, di situlah keindahan bahasa ini. Dalam setiap kata yang kita ucapkan dari “terima kasih” sampai “apa kabar” tersimpan upaya kecil untuk saling memahami.
Karena sesungguhnya, bahasa adalah cara kita menjaga perasaan satu sama lain.














