CIAMIS,Kondusif.com– Hari Santri Nasional,- Malam itu, langit Ciamis tampak berbeda. Ribuan santri bersarung dan berpeci memenuhi halaman Islamic Center Ciamis, Selasa (21/10/2025). Dari kejauhan, gemerlap lampu sorot berpadu dengan suara lantunan shalawat, menciptakan suasana yang syahdu dan penuh makna.
Lebih dari 5.000 santri datang dari berbagai pondok pesantren di seluruh penjuru Kabupaten Ciamis.
Mereka berkumpul bukan sekadar memperingati Hari Santri Nasional 2025, tetapi juga meneguhkan tekad untuk menjadi penjaga akhlak dan peradaban bangsa.
Doa untuk 67 Santri yang Wafat
Kemudian, suasana berubah hening ketika Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya, M.M. naik ke panggung.
Ia mengawali sambutannya dengan suara lembut, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya 67 santri Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo.
“Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi para santri dan ketabahan bagi keluarga mereka,” ucapnya.
Sejenak, ribuan jamaah juga menunduk. Tak sedikit yang menyeka air mata.
Doa bersama pun bergema di antara sinar lampu dan malam yang tenang.
Tangis santri bercampur dengan lantunan ayat suci, menghadirkan getar spiritual yang sulit dilupakan.
Santri sebagai Penjaga Peradaban
Dalam sambutannya, Bupati Herdiat juga menegaskan bahwa Hari Santri Nasional bukan hanya perayaan simbolik.
Sejak ditetapkan pada 2015, santri telah berperan besar menjaga identitas keislaman dan kebangsaan.
“Tahun ini kita mengusung tema ‘Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia.’ Santri tidak hanya pelaku sejarah, tapi juga pengawal nilai-nilai bangsa,” ujarnya tegas.
Ia juga menambahkan, santri harus berperan aktif membangun peradaban universal melalui ilmu, akhlak, toleransi, dan kontribusi sosial.
Dalam pandangannya, santri adalah benteng moral sekaligus spiritual bangsa yang tak tergantikan.
Ukhuwah Islamiyah dan Gerakan Moral
Cahaya lampu sorot menyoroti wajah-wajah muda santri yang larut dalam doa.
Di hadapan mereka, Bupati Herdiat mengajak seluruh umat untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah serta meneguhkan perjuangan melawan degradasi moral.
“Kita harus bersama menjaga keluarga dari penyimpangan moral. Kolaborasi ulama, kiai, dan pemerintah akan memperkuat ketahanan sosial masyarakat,” katanya.














