Agun mengakui setiap proses seleksi tidak mungkin memuaskan semua pihak.
Namun, menurut dia, panitia seleksi harus tetap berani mengambil keputusan.
“Namanya sebuah seleksi tidak akan pernah mungkin bisa memuaskan semua orang. Tapi bagaimanapun, panitia seleksi harus berani mengambil keputusan,” katanya.
Ia menilai perubahan mekanisme tersebut menunjukkan adanya lompatan dalam tata kelola Universitas Galuh.
Transparansi dan keterbukaan mulai ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses pengambilan keputusan.
Agun berharap pola tersebut tidak berhenti pada proses seleksi.
Kepemimpinan baru Universitas Galuh juga diharapkan mampu membawa kampus menjadi lebih kuat dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami yakin ini adalah kolaborasi yang harus kita wujudkan menuju Universitas Galuh yang terbaik,” ujar dia.














