Rizaldi mengatakan penelusuran kontak TB dilakukan secara aktif dari rumah ke rumah. Setiap kontak akan dipastikan menjalani screening menggunakan X-ray.
Sementara warga yang masuk kategori terduga TB akan diarahkan untuk menjalani pemeriksaan diagnostik.
“Sehingga diharapkan adanya cakupan screening yang meningkat, terduga diperiksa diagnostik, lalu kasus TB ditemukan dan segera diobati,” ujarnya.
Selain penemuan kasus, Dinkes Ciamis memastikan pasien TB mendapatkan pengobatan sesuai standar.
Kontak erat dan populasi yang memenuhi syarat juga akan mendapatkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Pelaksanaan terapi akan didukung Pengawas Menelan Obat (PMO), kader, dan keluarga.
Dinkes juga akan memantau efek samping TPT serta kepatuhan masyarakat dalam menjalani terapi.
Program tersebut kemudian diintegrasikan dengan layanan kesehatan lain, seperti gizi, imunisasi, serta pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular (PTM).
Capaian Dipantau Rutin
Dinkes Ciamis juga menyiapkan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai target.
Pemantauan indikator dilakukan setiap minggu maupun bulan.
Dinkes juga melakukan supervisi dan coaching di tingkat kabupaten, mengevaluasi capaian, serta mengidentifikasi kendala yang muncul di lapangan.
Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut perbaikan.
Sementara pelaporan dilakukan melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) maupun ASIK.
Melalui rangkaian program tersebut, Dinkes Ciamis menargetkan penemuan kasus TB dapat meningkat.
Pada saat yang sama, cakupan pemberian TPT bagi kontak yang memenuhi syarat serta kepatuhan menjalani pengobatan diharapkan ikut meningkat.
Upaya tersebut diarahkan untuk menekan penularan TB di masyarakat dan keluarga, termasuk memperkuat penanggulangan TB di tingkat desa serta mendukung eliminasi TB di Kabupaten Ciamis.














