Ia mengingatkan risiko bencana yang dapat muncul ketika musim hujan datang setelah periode kemarau.
Pipit menyebut banjir bandang dan tanah longsor sebagai bencana yang perlu diantisipasi.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak hanya memperhatikan dampak kekeringan, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana hidrometeorologi ketika hujan turun.
“Ini juga diantisipasi banjir bandang, tanah longsor, ini juga harus diantisipasi untuk masyarakat kita semua,” ujar dia.
Dalam kunjungan tersebut, Pipit juga berdiskusi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, tokoh masyarakat dan unsur legislatif di Ciamis.
Pertemuan itu membahas sejumlah persoalan yang berkembang di wilayah tersebut.
Pipit mengatakan koordinasi dengan berbagai unsur diperlukan untuk menjaga kondisi Jawa Barat tetap kondusif.
Ia juga meminta masyarakat dan kepolisian menjaga karakter sosial Ciamis yang menurutnya memiliki keberagaman agama dan suku.
“Ciamis, saya yakin di sini adalah kota santri, masyarakatnya santun, dan kemudian saya ingin dipertahankan karena peradabannya ini merupakan salah satu kabupaten yang memiliki toleransi tinggi terhadap keberagaman agama, keberagaman suku,” kata Pipit.
Ia meminta keberagaman tersebut dijaga bersama.
Menurut Pipit, keamanan wilayah juga perlu berjalan seiring dengan kehidupan masyarakat yang menghargai perbedaan.
“Jadikan Ciamis ini terkenal karena kabupaten yang sangat toleransi kepada siapapun, dan kita mampu menjamin keamanan dengan baik,” ujar dia.














