Siddiq berarti menjunjung kejujuran, amanah berarti dapat dipercaya, tabligh mengajarkan pentingnya menyampaikan kebenaran, sedangkan fathonah mencerminkan kecerdasan dan kebijaksanaan.
Keempat sifat tersebut, kata dia, tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat saat ini, mulai dari lingkungan keluarga, pekerjaan hingga kehidupan bermasyarakat.
“Harapannya hikmah dari Maulid Nabi ini bisa diterapkan dalam kehidupan saat ini,” harap Gus Latif.
Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan KH Drs. Iing Nurhidayat, M.Pd. Pesan yang disampaikan mengarahkan jamaah untuk tidak berhenti pada mengenang sejarah kelahiran Nabi, tetapi menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai bagian dari perilaku sehari-hari.

Dalam tausiyahnya mengingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW seharusnya tidak berhenti pada lantunan shalawat dan peringatan Maulid.
“Jangan hanya kita kenang kelahiran Rasulullah, tetapi mari kita hidupkan akhlaknya. Sebab, bukti cinta kepada Rasulullah bukan hanya dengan ucapan, melainkan dengan meneladani sikapnya dalam kehidupan,” pesan KH Iing.
Pesan tersebut menjadi penutup yang mengikat seluruh rangkaian Maulid Nabi di Cikoneng: shalawat menumbuhkan cinta, keteladanan melahirkan akhlak, dan akhlak yang baik menjadi jalan menuju ridho Allah SWT.***
Reporter: Hasna Ismie Lutfiyah














