banner 720x220
Opini  

Antara Pena dan Meteran: Di Mana Letak Martabat Jurnalis?

Keterangan foto : Ilustrasi
Keterangan foto : Ilustrasi

Lebih jauh, perilaku semacam ini dapat menimbulkan konflik kepentingan.

Oknum wartawan tampak menilai hasil proyek, padahal ia tidak memiliki dasar keahlian untuk itu.

Jika kondisi ini dibiarkan, kepercayaan masyarakat terhadap profesi wartawan bisa menurun karena dianggap tidak memahami batas kerja jurnalistik.

Kembali ke Jalur yang Benar

Setiap profesi memiliki batas dan tanggung jawab moral. Wartawan memiliki Kode Etik Jurnalistik, sedangkan surveyor memiliki standar profesi teknis.

Keduanya tidak boleh saling bertukar peran.

Menjadi wartawan berarti menegakkan kebenaran melalui informasi, bukan melalui alat ukur.

Ia tidak perlu menghitung panjang jalan untuk mengetahui kinerja proyek cukup menelusuri kebijakan, memastikan transparansi, dan menyampaikan hasilnya kepada publik secara objektif.

Wartawan sejati bekerja dengan pena dan nurani, bukan dengan meteran dan angka.

Ukuran keberhasilannya tidak diukur dari seberapa banyak ia mengukur fisik proyek, tetapi dari seberapa dalam ia menggali makna dan kebenaran di balik peristiwa.

Sudah saatnya dunia jurnalistik melakukan introspeksi. Oknum wartawan perlu kembali memahami hakikat profesinya sebagai penyampai kebenaran dan pengawal nurani publik.

Masyarakat membutuhkan berita yang faktual dan bermakna, bukan data pengukuran yang bisa menyesatkan.

Karena pada akhirnya, kehormatan seorang wartawan tidak terletak pada alat ukur di tangannya, tetapi pada integritas dan kejujuran dalam setiap kalimat yang ia tulis.

 

Penulis : Ghea Chandra

 

Catatan Redaksi:

Tulisan ini merupakan kolom opini, berisi pandangan pribadi penulis. Isi tulisan tidak selalu mencerminkan kebijakan redaksi, namun dimuat untuk memberikan ruang refleksi dan sudut pandang kritis terhadap profesi jurnalistik.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *