“Anak muda biasanya suka yang putih, katanya lebih ringan. Kalau yang suka manis pekat biasanya pilih gula merah,” ceritanya.
Sementara itu, harga kelapa muda dari petani juga tidak selalu stabil.
“Kadang empat ribu, kadang lima ribu per butir. Tergantung kondisi buah dan musim,” jelasnya.
Meski penjualan turun, Toke tetap memilih bertahan. Baginya, setiap musim memiliki rezekinya masing-masing.
Selama masih ada pengendara yang berhenti meski hanya membeli satu gelas, ia merasa tetap layak berusaha.
“Udah biasa lah naik turun. Yang penting tetep jualan,” ucapnya dengan nada optimistis.
Di tengah derasnya hujan dan lesunya pembeli, Toke adalah gambaran kecil tentang bagaimana pedagang kaki lima bertahan hidup mengandalkan kesabaran, senyum, dan sedikit harapan bahwa esok akan lebih ramai.














