Ciamis,kondusif.com,- Filosofi Panca Gawe menjadi roh dari gerakan besar ketahanan pangan di Desa Jalatrang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis. Lima prinsip sederhana yang lahir dari masyarakat ini ternyata mampu menggerakkan perubahan besar dalam pola pikir dan gaya hidup warga, terutama dalam upaya menciptakan kemandirian ekonomi berbasis pekarangan.
Kepala Desa Jalatrang, Dadi Haryadi, menjelaskan bahwa Panca Gawe merupakan transformasi lokal dari nilai-nilai pemberdayaan yang telah dikenalnya sejak tahun 2004.
“Konsep ini kami adopsi dan sesuaikan dari gerakan 5K yang dulu pernah digagas oleh Pak H. Rukman dari Dinas KB Kabupaten Ciamis. Lalu kami modifikasi menjadi Pancagawe istilah yang lebih membumi di masyarakat kami,” ujar Dadi saat diwawancarai, Jumat (25/7/2025).
Lima Pilar Semangat Panca Gawe
Filosofi Panca Gawe terdiri dari lima kata kunci berbahasa Sunda.
Kahayang yang memiliki arti memiliki impian.
Kemudian, Kadaek yang berarti adanya niat dan aksi nyata.
Lalu, Kanyaho yakni pengetahuan sebagai landasan perubahan
Selanjutnya, Kabisa yaitu memiliki keterampilan dan kemampuan yang diasah.
Terakhir, Kaboga yaitu memiliki hasil nyata berupa kepemilikan dan manfaat yang dirasakan.
“Kalau seseorang punya kahayang (harapan), maka harus ada kedaek (niat dan aksi),” ujar Dadi.
“Kemudian, ia harus kanyaho (tahu caranya), lalu kabisa (bisa melakukan), hingga akhirnya kaboga (memiliki hasilnya).”
Landasan Gerakan Pekarangan Pangan Bergizi
Prinsip Panca Gawe bukan hanya slogan.
Filosofi ini mengakar kuat dalam program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) yang dijalankan warga sejak tahun 2021.














