Hal ini sejalan dengan prinsip Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh dalam membangun lingkungan yang lestari.
”Kita berbicara tentang bagaimana warisan yang sangat luar biasa dari para leluhur ini tetap ada dan bisa dirasakan 100 tahun ke depan,” tambah Dian.
Gerakan “Lilahi Ta’ala”
Salah satu poin paling menarik dalam sawala ini adalah penegasan bahwa gerakan kebudayaan di Ciamis didorong oleh semangat ketulusan atau Lilahi Ta’ala.
Ketua DKKC, Iyat Rospia Brata, menyebutkan bahwa para budayawan bergerak atas inisiatif sendiri demi menjaga denyut nadi Tatar Galuh agar tidak luntur.
Semangat sukarela ini kemudian diperkuat oleh dukungan pemerintah melalui kebijakan yang sedang disusun.
Tujuannya untuk memastikan pembangunan Ciamis tetap berwawasan budaya.
Sinergi antara ketulusan masyarakat dan regulasi pemerintah inilah yang diharapkan mampu menjaga harmoni kehidupan di Ciamis.
Melalui filosofi ini, masyarakat diajak untuk menyadari bahwa menjadi modern bukan berarti meninggalkan akar.
Justru dengan berpijak pada nilai-nilai Alam Bihari, masyarakat Ciamis memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan zaman di Alam Kiwari.














