Ia menilai bahwa tugas generasi saat ini adalah memelihara warisan “Alam Bihari” (masa lalu) untuk keberlangsungan “Alam Kiwari” (masa kini) hingga masa depan.
”Jika kita tidak memberikan edukasi dan menjaga peninggalan leluhur ini, semua jati diri kita bisa hilang. Kita harus memiliki visi yang sama untuk melestarikan lingkungan yang berbasis kearifan lokal,” tegas Dian.
Kolaborasi Lintas Sektor
Upaya menjaga dominasi kelapa di Ciamis ini juga mendapat dukungan dari sektor pariwisata.
Kepala Dinas Pariwisata Ciamis, Heryan Rusyandi, menyebutkan bahwa daya tarik wisata Ciamis sangat bergantung pada keaslian budayanya.
Kelapa, sebagai bagian dari wisata alam dan budaya, menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana autentik Tatar Galuh.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah daerah berencana memperkuat regulasi yang ada.
Melalui Peraturan Daerah (Perda) yang akan dijabarkan ke dalam Peraturan Bupati (Perbup), pembangunan di Ciamis nantinya akan lebih berwawasan budaya.
Melalui Sawala Ageung ini, sebuah pesan kuat dikirimkan kepada seluruh masyarakat: menjaga pohon kelapa berarti menjaga martabat dan sejarah Ciamis.
Dengan menolak sawit dan melestarikan kelapa, Ciamis sedang berupaya memastikan bahwa “denyut nadi” Tatar Galuh tetap berdetak kencang hingga ratusan tahun ke depan.














