CIAMIS,Kondusif.com,- Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, KH. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi atau yang akrab disapa Ang Icep, memberikan suntikan motivasi bagi para jurnalis dalam sesi kedua Pesantren Ramadan Ciamis 1447 H, Kamis (5/3/2026).
Dalam pemaparannya, Ang Icep mendorong lahirnya tradisi “Jurnalisme Filantropis” yang mengedepankan empati dan pemberdayaan masyarakat.
Jurnalis yang Peduli, Bukan Sekadar Cari Berita
Ang Icep mengawali materinya dengan menekankan bahwa jurnalisme adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial.
Ia mengaku merasa ada yang hilang jika sehari saja tidak mendengar berita.
Namun, beliau mengingatkan agar keterbukaan informasi saat ini tidak membuat jurnalis menjadi “nekat” tanpa etika.
”Jurnalis itu harus punya empati tinggi dan peduli lingkungan. Filantropi harus menjadi ‘darah’ dalam tradisi jurnalisme baru. Artinya, jurnalis tidak hanya pandai merangkai kata, tetapi juga mampu melakukan pendampingan dan pemberdayaan yang positif bagi masyarakat,” tegas Ang Icep yang juga pernah terjun sebagai jurnalis kampus selama tiga tahun.
Seni Berkomunikasi: Antara Dialog dan Debat Kusir
Lebih lanjut, Ang Icep membedah beberapa tingkatan komunikasi yang harus dikuasai oleh seorang Sohafi (wartawan).
Beliau menekankan pentingnya Muadasah atau percakapan dengan bahasa-bahasa positif, serta Muhawaroh atau dialog yang tidak kaku.
”Gunakanlah bahasa yang membangun. Hindari debat kusir yang hanya melahirkan permusuhan. Jika memang harus berdebat, debatlah dengan cara yang lebih baik untuk melahirkan kebenaran, bukan kemunafikan,” tambahnya. Ia juga menyinggung fenomena masyarakat Indonesia yang terkadang masih sulit mengucapkan kata “terima kasih” dan “minta maaf”.
Prinsip “Tangan di Atas” dan Independensi
Menariknya, Ang Icep menyelipkan pesan kuat mengenai harga diri seorang jurnalis.
Beliau mengingatkan agar wartawan memegang prinsip filantropi Islam, yaitu Al-Isar (mengutamakan kepentingan orang lain) namun tetap menjaga martabat.














