CIAMIS,Kondusif.com,— Di tengah derasnya arus modernisasi, Otang (56), warga Dusun Banaruka, Desa Karanganyar, Kecamatan Cijeungjing, Ciamis, masih setia menekuni pekerjaan tradisionalnya sebagai perajin bakul bambu atau boboko.
Selama lebih dari 30 tahun, tangan tuanya tak pernah lelah menari bersama bilah-bilah bambu.
Dari ruang sederhana di samping rumah, suara serat bambu terbelah menjadi saksi perjuangan hidup yang ia jalani dengan sabar.
“Sudah tiga puluh tahun lebih saya menganyam boboko. Bahannya beli sendiri, semua dikerjakan manual,” ujarnya dengan senyum tenang saat ditemui Rabu (12/11/2025).
Meski zaman berubah, Otang tetap setia. Ia masih menjual hasil anyamannya ke pengepul di desanya.
Perjuangan di Tengah Zaman Plastik
Namun, kini ia harus berhadapan dengan kenyataan: minat masyarakat terhadap bakul bambu mulai menurun, tergantikan wadah plastik yang lebih praktis.
“Sekarang peminatnya berkurang. Banyak yang beralih ke plastik,” kata Otang lirih.

Untuk satu bakul ukuran kecil atau “enam bilangan”, ia hanya mendapat Rp10.000 dari pengepul.
Ukuran sedang “tujuh bilangan” seharga Rp15.000, sedangkan ukuran besar “delapan bilangan” dijual Rp30.000.
Otang mengaku lebih sering membuat ukuran enam dan tujuh bilangan karena lebih cepat terjual.
Dalam sehari, ia hanya mampu menyelesaikan dua bakul.
“Kalau dihitung, seminggu paling dapat sekitar dua ratus ribu rupiah,” ujarnya jujur.
Meski penghasilan pas-pasan, ia tak menyerah. Di Dusun Banaruka, masih ada beberapa pengrajin lain yang bernasib sama.














