banner 720x220
Opini  

Antara Pena dan Meteran: Di Mana Letak Martabat Jurnalis?

Keterangan foto : Ilustrasi
Keterangan foto : Ilustrasi

Opini, Kondusif.com,- Fenomena oknum wartawan yang membawa meteran dan ikut mengukur proyek pembangunan kini semakin sering terlihat di lapangan. Ada yang sibuk menghitung panjang jalan, mencatat ukuran bangunan, bahkan menilai hasil pekerjaan seolah-olah seorang ahli teknis.

Sekilas tampak aktif dan peduli, namun sebenarnya hal ini menunjukkan kekeliruan mendasar: wartawan bukan surveyor.

Dalam dunia kerja profesional, wartawan dan surveyor berdiri di atas peran yang sama-sama penting, tetapi sangat berbeda.

Wartawan berada di wilayah informasi publik, sedangkan surveyor bekerja di wilayah teknis pengukuran dan analisis data.

Masing-masing memiliki keahlian, kode etik, dan tanggung jawab yang tidak bisa dipertukarkan.

Wartawan: Pencari Fakta, Bukan Pengukur Proyek

Tugas utama wartawan adalah mencari, mengolah, dan menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat.

Wartawan bekerja dengan metode jurnalistik: observasi, wawancara, dan verifikasi.

Dalam konteks peliputan pembangunan, wartawan seharusnya menyoroti kebijakan, transparansi anggaran, serta dampak bagi masyarakat, bukan mengukur panjang jalan atau volume bangunan.

Pekerjaan teknis seperti itu adalah ranah surveyor. Wartawan bekerja dengan data, bukan angka hasil pengukuran.

Wartawan menulis untuk menjelaskan kebenaran sosial, bukan menghitung realitas fisik.

Ketika wartawan turun ke lapangan dengan meteran di tangan, maka yang kabur bukan hanya batas profesi, tetapi juga marwah jurnalistik itu sendiri.

Surveyor: Ahli Ukur yang Bekerja Berdasarkan Standar Teknis

Berbeda dengan wartawan, surveyor merupakan tenaga ahli di bidang pengukuran dan pemetaan.

Tugasnya adalah menentukan data fisik seperti panjang, luas, volume, atau koordinat suatu lokasi dengan alat profesional seperti theodolite, total station, dan GPS geodetik.

Pekerjaan surveyor diatur oleh standar teknis yang ketat dan hasilnya bisa diuji secara ilmiah.

Surveyor menghasilkan angka dan koordinat yang digunakan sebagai dasar perencanaan atau audit proyek.

Mereka bekerja di wilayah presisi, sedangkan wartawan bekerja di wilayah informasi.

Jika wartawan mengambil peran surveyor, maka batas antara pencatat fakta dan pengumpul data teknis akan hilang.

Tanda Krisis Etika dan Identitas Profesi

Fenomena oknum wartawan membawa meteran sejatinya bukan hal sepele.

Itu menunjukkan krisis etika dan identitas profesi di kalangan jurnalis.

Wartawan yang seharusnya menjadi penyampai informasi publik justru tampil seperti auditor lapangan. Akibatnya, publik bisa salah paham tentang peran media.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *