Kemudian, melibatkan penyuluh dari Dinas Pertanian, dan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) di setiap dusun.
Proses itu ditopang dari Dana Desa sebesar 20% yang dialokasikan khusus untuk ketahanan pangan.
“Prosesnya bertahap. Kami bentuk kelompok-kelompok berisi 15 orang. Mereka mengikuti delapan kali pertemuan, belajar langsung dari narasumber pertanian,” jelasnya.
Kini, hasilnya mulai tampak. Banyak warga yang tak hanya mencukupi kebutuhan rumah tangga dari hasil kebun mereka.
Tapi juga menjual ke pasar untuk tambahan penghasilan.
Lebih lanjut, Dadi berharap keberhasilan ini menjadi fondasi untuk lahirnya kesadaran mandiri di tengah masyarakat.
“Harapannya, masyarakat tidak hanya bangga karena juara lomba. Tapi benar-benar paham bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari halaman rumah sendiri. Tak perlu lahan luas pekarangan pun bisa jadi solusi,” tegasnya.














