”Berdasarkan hasil hisab, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia hari ini berada pada rentang 0 derajat 54 menit hingga 3 derajat 7 menit, dengan elongasi yang hanya berkisar di angka 4 derajat,” papar Nasaruddin Umar dalam konferensi pers usai sidang.
Data tersebut menunjukkan bahwa secara astronomis, posisi bulan masih terlalu rendah dan tidak memenuhi standar visibilitas yang telah disepakati bersama.
Laporan dari Penjuru Negeri
Kementerian Agama juga telah menyebarkan tim pemantau hilal di berbagai titik strategis di seluruh Indonesia untuk melakukan konfirmasi lapangan (rukyah).
Namun, hingga sidang ditutup, tidak ada satu pun petugas yang berhasil menangkap visual hilal di cakrawala.
”Karena posisi hilal secara hisab belum memenuhi kriteria dan hasil laporan rukyah di lapangan juga tidak melihat hilal, maka disepakati 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu,” tegas Menag.
Menutup pengumumannya, Menteri Agama menyampaikan pesan sejuk bagi seluruh masyarakat.
Beliau berharap kesepakatan dalam memulai hari raya secara bersama-sama ini menjadi simbol persatuan dan kebersamaan umat Islam di seluruh penjuru tanah air.














