banner 720x220
News  

Batas Lahan Hilang, Cileueur Menggigit Ruang Hidup Warga Ciamis

Keterangan foto : Sungai Cileueur (istimewa)
Keterangan foto : Sungai Cileueur (istimewa)

Deden Erik Ustrada bahkan kehilangan sebagian kebun setelah tiga dentuman keras pada 24 Januari 2025.

“Tanah kebun langsung ambrol. Pohon jengkol saya juga ikut hanyut,” ujarnya. Ia mengaku kini tidak tenang setiap kali awan gelap menggantung di hulu Gunung Syawal.

Ancaman pada Tata Ruang: Aliran Sungai Mengarah ke Selatan

Kuswan mengungkap bahwa aliran Cileueur kini bergerak semakin ke selatan dan memakan lahan warga dari hari ke hari.

Jika dibiarkan, bukan hanya rumah yang hilang, tetapi juga batas-batas administrasi antara Kecamatan Ciamis dan Sadananya.

Pemerhati lingkungan dari Walhi Jawa Barat, Turehan Ashuri, memperingatkan bahwa situasi ini tidak boleh dianggap kasus biasa.

“Penanganan harus antisipatif. Jangan tunggu korban jiwa baru bergerak,” tegasnya.

Ia menilai pemerintah harus menghitung ulang lahan warga yang hilang serta menyiapkan mitigasi jangka panjang agar perubahan aliran sungai tidak menghancurkan pola ruang yang sudah mapan.

Di tengah ancaman ini, Lurah Sindangrasa, Derry Insan Akhira Yusman, tetap mengirimkan laporan resmi meski sedang cuti.

Warga menilai langkah itu penting, tetapi belum cukup. Mereka menunggu tindakan konkret dari dinas teknis, terutama pemasangan bronjong dan penguatan tebing.

Sungai yang Berubah, Nasib Warga Ikut Bergeser

Seruan Mumu dan Ahmad kini menggema sebagai tekanan publik: penyelamatan Sungai Cileueur tidak bisa ditunda.

Pengembalian aliran sungai, perbaikan tebing, dan sistem mitigasi permanen menjadi kebutuhan mendesak.

Sebab, jika gerak sungai terus dibiarkan liar, bukan hanya rumah warga yang lenyap masa depan ruang hidup dan tata wilayah Ciamis pun ikut terhapus.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *