banner 720x220
News  

Batas Lahan Hilang, Cileueur Menggigit Ruang Hidup Warga Ciamis

Keterangan foto : Sungai Cileueur (istimewa)
Keterangan foto : Sungai Cileueur (istimewa)

Ciamis,Kondusif.com,— Arus Sungai Cileueur kini tak hanya membawa lumpur dan batang-batang kayu. Lebih dari itu, alirannya sedang “memakan” ruang hidup warga. Pergeseran jalur sungai yang makin cepat membuat tebing-tebing rapuh, rumah-rumah menggantung, dan batas lahan perlahan hilang.

Fenomena ini menjadi alarm keras bagi dua tokoh lokal, Mumu dari Paguyuban Pecinta Lingkungan Permata Lingga, dan Ahmad dari P3A Jaga Baya Sindangrasa. Keduanya melihat perubahan perilaku sungai yang kian tak normal.

“Situasinya sudah lewat batas wajar. Kami butuh langkah pencegahan secepatnya sebelum semuanya runtuh,” kata Mumu, Senin (17/11/2025).

Ia mengatakan intensitas hujan yang tinggi mempercepat gerakan sungai. Setiap sore, debit naik, dinding tebing turun, dan ancaman berpindah dari satu titik ke titik lain.

Pergeseran Aliran Sungai Cileueur Bukan Sekadar Retakan

Ahmad membawa data lebih rinci. Ia dan petani pengguna air beberapa kali mengukur pergeseran sungai dan menemukan aliran Cileueur telah meninggalkan jalur alamiahnya.

“Pergeseran tidak terjadi mendadak, tapi pasti. Tebing terus digerus dan longsoran muncul berkali-kali,” ujarnya.

Ia mencatat tanah di pinggir sungai turun lebih dari 10 sentimeter, sementara lahan yang hilang sudah melewati 5 meter.

Di beberapa titik, tinggi kerusakan tebing mencapai 15–20 meter, dengan panjang sekitar 190 meter yang membutuhkan penanganan struktural segera.

“Langkah pertama itu jelas: aliran sungai harus dikembalikan ke jalur awal. Kalau tidak, abrasi hanya akan makin brutal,” kata Ahmad.

Rumah Masuk Zona Bahaya, Jarak ke Sungai Tinggal Sekujur Lengan

Warga kini hidup dalam kecemasan harian. Belasan rumah masuk kategori sangat rawan.

Jarak antara fondasi rumah dengan bibir sungai hanya tinggal beberapa langkah bahkan ada yang hanya sepanjang seukuran lengan orang dewasa.

Setiap malam, warga Margayasa mendengar bunyi retakan kecil dari tanah. Setiap pagi, mereka mengecek jarak rumah ke tebing, yang selalu lebih dekat dari hari sebelumnya.

Longsor Beruntun, Tanah Kebun Hilang Tanpa Jejak

Ketua RT 003 RW 004 Margayasa, Kuswan, menjadi saksi langsung longsor yang menyeret rumpun bambu pada 11 November dini hari.

“Sudah sering terjadi. Setiap hujan besar, pasti ada longsor baru,” katanya.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *