1. Pembagian logistik gratis (makanan dan minuman) bagi pemudik yang kelelahan.
2. Hiburan religi di titik-titik lelah untuk meredam stres di perjalanan.
3. Aksi sosial spontan yang memberikan rasa nyaman bagi masyarakat luas.
“Pendekatan ini membuktikan bahwa Polri hadir bukan sekadar penjaga keamanan, melainkan sahabat masyarakat. Ada sentuhan kemanusiaan yang sangat terasa, dan ini adalah edukasi nyata bagi pelayanan publik,” jelasnya dengan antusias.
Menuju Budaya Kerja Berkelanjutan
Menurut Kang Rifa’i, pola kepemimpinan yang mengedepankan kolaborasi dan empati sosial seperti ini seharusnya menjadi standar baku bagi para pemangku kebijakan lainnya.
Ia menilai gaya kepemimpinan AKBP H. Hidayatullah sangat jauh dari kesan eksklusif.
Sebagai penutup, IPJI Ciamis berharap agar budaya kerja yang inklusif ini tidak berhenti saat operasi berakhir, melainkan terus mendarah daging dalam keseharian kepolisian.
“Sinergi tanpa sekat ini harus kita jaga. Sebab, pelayanan publik terbaik adalah pelayanan yang terbuka, inklusif, dan benar-benar menyentuh hati seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya.
Penulis: Hasna Ismi Lutfiyah














