banner 720x220
News  

Setelah Cirahong “Disterilkan”: Suara Nyaring dari Ciamis Menagih Solusi KDM

Husni Mubarok, warga Ciamis yang rutin melintasi Jembatan Cirahong
Husni Mubarok, warga Ciamis yang rutin melintasi Jembatan Cirahong

Menurut pengamatannya, warga memberikan uang secara sukarela sebagai bentuk apresiasi atas jasa pengaturan jalan.

“Bahkan tadi saya berhenti di sini, ada warga yang serta-merta memberi uang ke saya, padahal saya bukan penjaga. Itu bukti bahwa mereka memberi karena sukarela, bukan karena diminta paksa,” tambahnya.

​Menagih Hadirnya Negara di Jembatan Cirahong

Sejumlah warga dan wisatawan tampak memadati kawasan Jembatan Cirahong, perbatasan Tasikmalaya-Ciamis, pada, Sabtu (4/4/2026) Jembatan peninggalan Belanda yang unik dengan struktur dua tingkat ini masih menjadi daya tarik utama bagi warga lokal untuk sekadar berkumpul maupun berswafoto di sela-sela aktivitas warga yang melintas.
Sejumlah warga dan wisatawan tampak memadati kawasan Jembatan Cirahong, perbatasan Tasikmalaya-Ciamis, pada, Sabtu (4/4/2026). 

Kritik Husni tak berhenti pada pembelaan warga.

Ia mendesak pemerintah daerah dan KDM untuk tidak hanya berhenti pada aksi “penghilangan” penjaga, tetapi juga menghadirkan solusi konkret yang selama ini absen dari tangan negara.

​”Jangan hanya berhenti di penghilangan pungli, tapi fungsi lain (pengaturan jalan) harus dihadirkan. Apakah harus ada lampu merah otomatis atau marka jalan yang jelas?” cetus Husni.

Ia mempertanyakan siapa yang akan bertanggung jawab jika di kemudian hari terjadi kecelakaan akibat ditariknya para penjaga swadaya tersebut.

​Paradoks Pemimpin dan Rakyat

​Bagi Husni, para penjaga Cirahong adalah “orang-orang baik” yang berniat membantu kelancaran publik di jembatan warisan kolonial yang sempit itu.

Ia menyayangkan jika niat membantu tersebut justru dipandang sebagai tindakan kriminal oleh pemimpin mereka sendiri.

​Kini, bola panas kembali ke meja pemerintah. Tanpa kehadiran penjaga atau sistem otomatis seperti lampu merah, Jembatan Cirahong yang baru diperbaiki satu miliar rupiah itu terancam menjadi jalur maut bagi penggunanya sendiri.

Husni dan warga lainnya kini menanti: akankah pemerintah mendengar, atau tetap terpaku pada aturan kaku tanpa solusi di lapangan?

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *