Jalan Pegunungan: Sebagian ulama mengaitkannya dengan as-syi‘b (jalan di pegunungan), yang melambangkan jalan setapak menuju kebaikan.
Penyembuh Luka Hati: Menariknya, ada pendapat yang menyebut Sya’ban berasal dari as-sya‘bu yang berarti “menambal”.
Maknanya, Allah SWT menambal dan menghibur hati hamba-Nya yang terluka dengan guyuran rahmat dan ampunan di bulan ini.
Memanfaatkan Momentum yang Terlupakan
Sayangnya, banyak orang kerap melewatkan Sya’ban begitu saja.
Padahal, Rasulullah SAW justru meningkatkan frekuensi ibadahnya pada bulan ini.
Mengapa demikian? Karena Sya’ban adalah waktu di mana seluruh amal manusia diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, para ulama sangat menganjurkan kita untuk tidak membiarkan bulan ini berlalu dengan sia-sia. Kita bisa mulai menghidupkan suasana Ramadhan lebih awal dengan:
Mengencangkan ibadah puasa sunnah.
Memperbanyak shalawat, sehingga Sya’ban sering dijuluki “Bulan Shalawat”.
Meningkatkan intensitas tadarus Al-Qur’an sebagai pemanasan jiwa.
Kesimpulannya, Sya’ban bukan sekadar masa tunggu. Ia adalah momentum untuk membersihkan hati, menambal kekurangan amal, dan menyiapkan fisik serta mental sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.














