banner 720x220

Serakahnomics: Ketika Rakus Jadi Nasionalisme Gaya Baru

foto : ilustrasi AI
foto : ilustrasi AI

Semua berlomba-lomba bicara “demi bangsa”, tapi yang dipikirkan adalah “berapa untungnya buat saya?”.

Rakus kini dibungkus kata “efisiensi”.

Kekuasaan disebut “amanah”.

Korupsi dipoles jadi “kebocoran kecil yang bisa diperbaiki.”

Beginilah wajah nasionalisme gaya baru, bukan lagi tentang berjuang bersama rakyat, melainkan siapa paling cepat menguasai sumber daya sebelum orang lain sempat ikut.

Saatnya Melawan Tanpa Senjata

Dalam refleksinya, Agus Jabo mengingatkan kembali pesan Diponegoro: kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan, tapi juga dari kerakusan.

Presiden Prabowo, katanya, paham benar bahwa musuh terbesar bangsa ini bukan di luar negeri, melainkan di dalam sistem ekonomi yang terlalu ramah pada yang serakah.

“Beliau sedang berupaya melawan mereka dari hilirisasi industri, penertiban aset tanah oligarki, hingga menutup ruang korupsi anggaran,” ujarnya.

Namun perjuangan itu tidak bisa diletakkan di pundak satu orang.

Rakyat juga harus berani menolak menjadi penonton.

Karena Serakahnomics hanya bisa hidup jika kejujuran dianggap bodoh, dan ketamakan dianggap pintar.

Refleksi untuk Bangsa

Peringatan kelahiran Pangeran Diponegoro yang ke-240 seharusnya tak berhenti di seremoni dan doa.

Ia seharusnya jadi alarm moral bahwa bangsa ini sedang diuji apakah kita masih punya nurani, atau kita sudah menjadikan rakus sebagai bentuk cinta tanah air yang baru.

“Mudah-mudahan, di usia 240 tahun kelahiran Pangeran Diponegoro, bangsa Indonesia menemukan semangat baru untuk melawan kerakusan ekonomi,” tutup Agus Jabo.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *