banner 720x220

Serakahnomics: Ketika Rakus Jadi Nasionalisme Gaya Baru

foto : ilustrasi AI
foto : ilustrasi AI

KONDUSIF.COM,- Di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, ada satu “ilmu ekonomi” yang tumbuh paling subur: Serakahnomics.

Bukan diajarkan di universitas, bukan pula tercantum dalam buku pelajaran, tapi praktiknya nyata di meja kekuasaan, di balik tender, di ruang rapat, hingga di balik layar keputusan publik.

Istilah ini muncul dari pidato Presiden Prabowo Subianto, lalu dijelaskan lebih dalam oleh Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono saat memperingati Milad ke-240 Pangeran Diponegoro di Yogyakarta (11/12/2025).

Namun di luar konteks politiknya, Serakahnomics terasa seperti cermin besar bagi bangsa ini  memperlihatkan bahwa rakus kini bukan sekadar dosa, melainkan strategi bertahan hidup.

“Serakahnomics adalah musuh bangsa. Selama Indonesia belum lepas dari cengkeramannya, sulit menjadi bangsa besar yang adil dan makmur,” ujar Agus Jabo.

Rakus, Kini Bertopeng Pembangunan

Dulu penjajahan datang lewat kapal dan senjata, kini datang lewat investasi dan kebijakan.

Dulu kekayaan negeri ini diangkut ke Eropa, sekarang ke rekening para elite dan korporasi yang pandai tersenyum di depan kamera sambil bicara “kemajuan ekonomi.”

Agus Jabo menyebut tiga aktor besar dalam Serakahnomics: imperialisme, oligarki, dan birokrat korup.

Tiga serigala tua yang menggigit dalam diam.

Mereka menyamar dalam jas rapi, berbicara tentang pertumbuhan, tapi diam-diam menggerogoti akar kesejahteraan rakyat.

“Imperialisme masih merampok sumber daya alam Indonesia untuk kemajuan negara lain. Oligarki menguasai tanah kita, dan birokrat korup menghisap anggaran,” ujarnya lugas.

Dari Diponegoro ke Era Digital

Agus mengaitkan Serakahnomics dengan perjuangan Pangeran Diponegoro, sosok yang melawan bukan hanya penjajah, tapi juga ketamakan dan ketidakadilan.

Bedanya, dulu musuh jelas memakai seragam kolonial. Sekarang, musuh mengenakan batik, jas, atau seragam dinas.

Perangnya pun lebih halus: lewat kebijakan, tender, dan wacana pembangunan yang kadang hanya memperkaya segelintir orang.

“Perang Jawa dulu bukan sekadar perang politik, tapi perang jati diri. Kini, perang melawan kehilangan jati diri itu belum selesai,” katanya.

Nasionalisme yang Salah Arah

Ironisnya, di tengah seruan cinta tanah air, Serakahnomics justru tumbuh dengan subur atas nama nasionalisme.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *