Ia menambahkan, PMII akan terus mendukung kerja-kerja KOPRI yang berpihak pada nilai keadilan dan kemanusiaan.
“Kami siap membersamai setiap langkah KOPRI yang berlandaskan spirit keadilan,” pungkasnya.
MABINCAB: Gerakan Intelektual yang Membumi
Perwakilan Majelis Pembina Cabang (MABINCAB) PMII Ciamis, Ilma Sripa Nurmila, mengingatkan bahwa SKK tidak boleh berhenti pada tataran intelektual semata.
“Sekolah Kader KOPRI harus menjadi stimulus gerakan kolektif yang berpihak pada keadilan sosial,” katanya.
Ia menyoroti belum adanya Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) di Kabupaten Ciamis. Menurutnya, hal itu menjadi tantangan nyata bagi aktivis perempuan.
“Ini bukan hanya urusan aktivisme, tapi tanggung jawab moral mahasiswa untuk membawa perubahan nyata,” tegasnya.
PKC Jawa Barat: Konsistensi dan Kepedulian Sosial
Ketua KOPRI PKC Jawa Barat, Anisa Nurhopipah Disastra, menegaskan pentingnya kesinambungan antara kerja internal dan eksternal organisasi.
“Keduanya menjadi vital agar organisasi tetap relevan dan berdaya secara konkret,” ujarnya.
Ia juga menyoroti minimnya peran sosial dari KPAD Jawa Barat dan mendorong kader KOPRI agar lebih aktif di tengah masyarakat.
“Inilah saatnya perempuan KOPRI mengambil peran nyata, bukan hanya berbicara tentang perubahan, tapi menjadi perubahan itu sendiri,” tandasnya.
Perempuan Sebagai Subjek Perubahan Sosial
Dalam sambutannya, Kepala KESBANGPOL Ciamis Dr. R. Yadi Tisyadi menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai aktor utama perubahan sosial.
“Perempuan harus hadir bukan sekadar pelengkap, tetapi subjek aktif perubahan sosial,” ujarnya.
Ia berharap melalui Sekolah Kader KOPRI akan lahir generasi pemimpin perempuan yang kritis, progresif, dan peduli terhadap nilai kemanusiaan.
Menyalakan Revolusi Inklusif dari Ciamis
Sekolah Kader KOPRI Se-Jawa Barat 2025 menjadi lebih dari sekadar pelatihan. Ia menjelma menjadi ruang konsolidasi gagasan dan semangat baru bagi gerakan perempuan muda.
Dari Ciamis, kobaran semangat intelektual perempuan KOPRI menyala, membawa pesan bahwa revolusi inklusif dan berkeadilan dimulai dari ruang-ruang kecil yang berani berpikir besar.














