”Penelitian ini mengoptimalkan limbah biomassa sebagai material ramah lingkungan untuk menurunkan konsentrasi merkuri secara efektif,” jelas Fuzi.
Bakteri dan Sekam Padi: ‘Benteng’ untuk Beras Aman
Di sisi lain, Fitri Yola Amandita, Peneliti Ahli Muda BRIN, fokus pada teknologi pemulihan lahan.
Ia berhasil mengisolasi 27 jenis bakteri dari tanah di Sukabumi yang memiliki daya tahan luar biasa terhadap merkuri.
Bakteri-bakteri “tangguh” ini kemudian ia kolaborasikan dengan sekam padi untuk melindungi tanaman pangan.
Strategi ini terbukti ampuh meminimalkan akumulasi racun pada bulir padi yang dikonsumsi manusia.
”Sekam padi dengan tambahan bakteri berhasil menahan merkuri di bagian akar, sehingga kadar yang sampai ke bulir padi jauh lebih rendah,” terang Fitri.
Mendorong Riset Keluar dari Laboratorium
Meski berbagai inovasi telah ditemukan, tantangan besar masih membentang.
Fitri menekankan bahwa teknologi ini tidak boleh hanya berhenti di meja laboratorium.
Ia mendorong adanya kolaborasi nyata antara BRIN, industri, dan pemerintah daerah agar solusi ini bisa diterapkan secara murah dan mudah oleh masyarakat luas.
Melalui sinergi dengan Prefectural University of Kumamoto (PUK), BRIN berkomitmen terus memperkuat riset dan inovasi teknologi.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya global untuk mewujudkan Indonesia bebas merkuri demi lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Sumber: Humas BRIN














