Jakarta,Kondusif.com,- Riset BRIN Soal Merkuri,- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membedah fakta mengejutkan terkait tingginya ancaman polusi merkuri di Indonesia.
Penambangan Emas Skala Kecil (PESK) yang masih menggunakan proses amalgamasi tradisional dituding menjadi biang kerok utama pencemaran lingkungan yang kini mulai menyusup ke rantai makanan masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam diseminasi bertajuk “Melindungi Masa Depan Kita untuk Generasi Selanjutnya – Polusi Merkuri dan Inisiatif Prefektur Kumamoto” yang digelar di KST BJ Habibie, Serpong, Senin (23/2/2026).
Racun di Balik Sayur dan Ikan
Tia Agustiani, Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (PRTLTB) BRIN, memaparkan hasil riset mendalamnya di wilayah Gunung Pongkor (Bogor) dan Waluran (Sukabumi).
Hasilnya mengkhawatirkan: merkuri telah mengontaminasi tanah, sedimen, hingga bahan pangan.
”Pola ini menunjukkan bahwa rantai makanan merupakan jalur utama paparan merkuri bagi masyarakat setempat,” ujar alumnus Prefectural University of Kumamoto (PUK) tersebut.
Di Gunung Pongkor, daun singkong menjadi penyumbang paparan merkuri tertinggi sebesar 46%, disusul ikan sebesar 29%.
Sementara itu, di Waluran, ikan menjadi kontributor utama dengan angka 39%, diikuti daun singkong 35%.
Kondisi ini, menurut Tia, sangat berisiko bagi kesehatan manusia, terutama kelompok rentan seperti anak-anak.
Sampah Domestik dan Inovasi Ekonomi Sirkular
Tak hanya dari tambang emas, ancaman merkuri ternyata juga mengintai dari tumpukan sampah.
Fuzi Suciati Sastraatmaja, perekayasa BRIN yang tengah menempuh studi doktoral di Jepang.
Menyoroti keberadaan merkuri pada air lindi di berbagai TPA besar, seperti Cipeucang, Galuga, Bantar Gebang, dan Rawa Kucing.
Meski konsentrasi pada air lindi saat ini belum melampaui baku mutu, Fuzi bergerak cepat menawarkan solusi berbasis ekonomi sirkular.
Ia memanfaatkan limbah industri seperti fly ash dan bottom ash sebagai material “Green Aggregate” untuk menyerap merkuri.














