“Teknologi ini diharapkan terus dikembangkan agar inklusif, adaptif, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi seluruh kalangan, termasuk penyandang disabilitas di Indonesia,” ucapnya.
Sementara itu, Gembong Satrio Wibowanto, Perekayasa Ahli Madya PR KAKS BRIN, memperkenalkan inovasi berbasis facial expression recognition (FER).
Teknologi ini memungkinkan sistem digital mengenali emosi atau kondisi pengguna melalui ekspresi wajah.
Membuka peluang besar untuk mendukung komunikasi nonverbal bagi penyandang disabilitas.
“FER bisa diterapkan dalam pendidikan inklusif, terapi, maupun asistensi harian. Namun, kita tetap harus menjaga privasi dan etika penggunaan data wajah agar manfaatnya meluas tanpa menimbulkan risiko sosial,” jelasnya.
Selain aspek teknis, BRIN juga menekankan pentingnya kebijakan yang berpihak.
Rachmita Maun Harahap, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, turut hadir membahas cara mewujudkan inklusivitas melalui kecerdasan artifisial dari perspektif hak-hak disabilitas.
Melalui rangkaian diskusi ini, BRIN berharap riset berbasis AI tidak hanya menjadi simbol kemajuan teknologit.
Tetapi juga sarana pemberdayaan yang nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kawan disabilitas.














