Ia menegaskan, penghargaan ini tidak diberikan sembarangan.
Para kandidat dinilai berdasarkan fakta integritas, testimoni masyarakat, dan kebersihan rekam digital.
“Kalau ada sandungan hukum atau masalah etik, penghargaan akan langsung kami cabut. Tapi sampai hari ini, rekam beliau bersih dan penuh keteladanan,” ujarnya.
Simbol Pemimpin Humanis di Tubuh Polri
Bagi Puskatt, AKBP Hidayatullah juga bukan sekadar pemimpin Polri yang sukses di bidang penegakan hukum, tetapi juga tokoh inspiratif yang mengedepankan rasa empati, keadilan, dan komunikasi humanis.
“Tugas pemimpin bukan hanya menegakkan hukum, tapi juga membangun persepsi positif tentang institusinya. Dan beliau berhasil menjadi contoh nyata di lapangan,” tutur Prof. Kurjum.
Dengan gaya kepemimpinan yang tegas namun lembut, AKBP Hidayatullah kini dianggap sebagai simbol pemimpin berhati nurani di tengah upaya reformasi budaya Polri.
“Beliau bukan hanya membangun inovasi, tapi membangun persepsi publik tentang kebaikan Polri. Inilah makna sejati dari kepemimpinan berani dan berperikemanusiaan,” tutup Prof. Kurjum.














