banner 720x220
News  

Prabowo: ‘Londo Ireng’ Kini Pakai Baju Wartawan hingga LSM

Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta International Convention Center (JICC). (Dok, foto. BPMI Setpres)
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta International Convention Center (JICC). (Dok, foto. BPMI Setpres)

Kondusif.com,- Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik keras terhadap pihak-pihak yang dinilainya lebih mengutamakan kepentingan asing dibandingkan kepentingan nasional. Dalam pidatonya, ia menyebut istilah “Londo Ireng” untuk menggambarkan kelompok yang, menurutnya, masih memiliki pola pikir serupa dengan pihak yang pernah berpihak kepada penjajah pada masa kolonial.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis (23/7/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan sosok yang ia sebut sebagai Londo Ireng tidak lagi tampil seperti pada masa penjajahan.

Menurutnya, mereka kini hadir dengan berbagai profesi, mulai dari wartawan, jurnalis, pengamat hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Ia kemudian mempertanyakan asal-usul pendanaan sejumlah LSM.

Menurut Prabowo, masyarakat berhak mengetahui pihak yang membiayai aktivitas organisasi tersebut.

“LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphone-mu siapa?” kata Prabowo, seperti dikutip dari kanal YouTube DPP PKB.

Istilah Londo Ireng sendiri berasal dari era kolonial. Sebutan itu merujuk pada kelompok pribumi yang dianggap berpihak kepada pemerintah Hindia Belanda dan melawan kepentingan bangsanya sendiri.

Dalam perkembangannya, istilah tersebut kerap digunakan sebagai sindiran terhadap pihak yang dinilai menjadi kepanjangan tangan kepentingan asing.

Klaim Pemerintah Terbuka terhadap Kritik

Meski melontarkan kritik, Prabowo menegaskan pemerintah tetap menghormati kebebasan berpendapat.

Ia menyebut Indonesia sebagai negara demokrasi yang terbuka terhadap kritik, namun menurutnya kritik juga harus disertai tanggung jawab.

banner 720x220

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *