“Alih fungsi lahan secara masif telah merusak ekosistem dan meningkatkan risiko bencana, seperti longsor dan banjir,” tegas Dedi.
Dedi juga menyoroti pentingnya pembangunan pariwisata berbasis lingkungan.
Ia mencontohkan pengembangan fasilitas wisata ramah lingkungan, seperti jembatan bambu di perkebunan teh yang tidak merusak tanaman.
“Pembangunan pariwisata harus mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat,” katanya.
Selain itu, Dedi menekankan pentingnya keterbukaan dalam pengelolaan pariwisata. “Harga tiket yang transparan, keamanan pengunjung, dan keramahan masyarakat akan meningkatkan daya tarik wisata dan membangun citra positif,” tambahnya.
Polemik pembongkaran wisata ini mencerminkan tantangan dalam menyeimbangkan pertumbuhan sektor pariwisata dengan kelestarian lingkungan.
Diharapkan pemerintah pusat dan daerah dapat memperkuat koordinasi untuk menciptakan kebijakan yang mendukung pengembangan pariwisata yang berkelanjutan tanpa mengorbankan lingkungan dan kepentingan masyarakat lokal.














