Selain itu, Kombes Pol. Hendra menjelaskan, faktor pendidikan, ekonomi, dan lingkungan turut meningkatkan kerentanan anak terhadap pengaruh radikalisme.
Kemiskinan, sulitnya lapangan kerja, serta persaingan yang ketat kerap dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menarik simpati dan loyalitas anak.
Sebagai langkah pencegahan, Polda Jabar menggandeng pemangku kepentingan daerah dan Da’i Kamtibmas untuk memperkuat edukasi sejak dini.
Tak hanya itu, kepolisian juga menyiapkan pembentukan satuan tugas khusus di lingkungan sekolah dengan melibatkan para siswa.
Langkah ini dinilai penting, terutama untuk mengantisipasi kasus perundungan yang dapat berdampak serius pada kondisi psikologis anak.
“Satgas akan melibatkan PKS, OSIS, dan organisasi sekolah agar menjadi pelapor jika terjadi bullying,” jelas Kombes Pol. Hendra.
Melalui mekanisme tersebut, polisi berharap deteksi dini dapat dilakukan lebih cepat dan risiko radikalisasi anak dapat dicegah.
“Karena dampak bullying sangat besar dan tidak boleh diabaikan,” pungkasnya.














