Kemenko PMK kini mengembangkan Analisis Kebijakan Mikro (AKM) untuk pemantauan berbasis data real-time.
Melalui dashboard digital terintegrasi, kasus TBC dan stunting dapat dipantau langsung. Sistem ini membuat kebijakan lebih cepat, adaptif, dan berbasis bukti.
Menteri Koordinator PMK Pratikno menjelaskan, digitalisasi kebijakan kesehatan menjadi langkah penting. Teknologi memungkinkan pemerintah bekerja lebih presisi dan responsif.
“Kami memastikan penyintas TBC tidak kehilangan haknya di tempat kerja. Termasuk perlindungan bagi pekerja informal yang tidak punya jaminan tetap,” kata Pratikno.
Pemerintah juga menerapkan sistem One Health, menghubungkan data kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Sistem ini mempercepat deteksi dini penyakit menular lintas sektor.
Platform digital SIZE Indonesia menjadi tulang punggung transformasi tersebut. Melalui sistem ini, deteksi dan pelaporan penyakit bisa dilakukan secara cepat dan terpadu.
Selain itu, pemerintah menilai peningkatan kualitas tenaga kesehatan masyarakat menjadi kunci utama. Kompetensi mereka akan diperkuat dengan literasi data dan teknologi digital.
Kurikulum pendidikan kesehatan kini menyesuaikan era baru. Literasi AI, analisis dashboard, dan sistem informasi kesehatan mulai diintegrasikan dalam pelatihan nasional.
Forum IAKMI menyerukan agar tenaga kesehatan masyarakat aktif memberi edukasi dan pendampingan teknis. Mereka diharapkan jadi garda terdepan pengawasan di daerah.
Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) juga disinergikan. Tujuannya, memperkuat daya tahan tubuh anak terhadap penyakit menular.
“Ini bukan sekadar program kesehatan. Ini investasi besar untuk kualitas manusia Indonesia,” tutup dr. Benny optimistis.
Pemerintah yakin, dengan pendekatan medis, sosial, dan ekonomi yang seimbang, Indonesia mampu menghapus TBC sebelum 2030.














