Mereka menjual ke pengepul karena jarang ada pesanan langsung.
“Pernah ada yang pesan, tapi tidak sering. Kebanyakan lewat pengepul,” katanya.
Otang menceritakan, dulu para perajin pernah dibentuk dalam satu kelompok oleh pemerintah desa.
Namun kini, perhatian itu perlahan pudar.
“Dulu ada kelompoknya, sekarang kurang diperhatikan,” ucapnya.
Bakat menganyam ini, kata Otang, diwariskan dari orang tuanya.
Ia mengaku, dari kecil sudah terbiasa memegang bambu tali jenis bambu terbaik untuk anyaman.
“Kalau bambu hitam kurang bagus, saya pakai bambu tali. Satu kodi atau dua puluh bakul butuh empat batang bambu. Harga per batangnya enam ribu,” jelasnya.
Yang membuat hati terenyuh, selama 30 tahun harga bakul nyaris tak berubah.
“Dulu harganya lima ribu, sekarang sepuluh ribu. Padahal sudah 2025,” katanya dengan nada pasrah.
Harapannya sederhana: agar perajin bakul seperti dirinya tak dilupakan.
“Mudah-mudahan kami lebih diperhatikan, supaya anyaman bambu tetap hidup, bisa bersaing, dan harganya naik,” tuturnya penuh harap.
Boboko buatan Otang bukan sekadar wadah nasi. Di setiap anyamannya, terselip ketekunan, warisan budaya, dan napas perjuangan yang mengikat erat antara tradisi dan kehidupan.














