CIAMIS,Kondusif.com,- Di atas derit lantai kayu Jembatan Cirahong yang baru bersolek, sebuah dilema menyeruak. Di satu sisi, pemerintah dan aparat baru saja “membersihkan” para penjaga swadaya demi menghapus label pungli.
Namun di sisi lain, para pengguna jalan justru merasa kehilangan sosok “polisi partikelir” yang selama ini dianggap sebagai penyelamat arus di jalur sempit tersebut.
Sandi dan Irfan, dua pelancong asal Bandung, menjadi saksi bagaimana jembatan legendaris ini bertransformasi.
“Dulu jalannya kurang bagus, sekarang pas ke sini lagi sudah bagus,” ujar Sandi saat ditemui di lokasi, Sabtu, (4/4/2026).
Bagi Sandi, keberadaan warga yang mengatur lalu lintas di mulut jembatan memiliki sisi terang yang tak bisa diabaikan.

Pasalnya, Jembatan Cirahong hanya cukup untuk satu jalur kendaraan (one-way). Tanpa pengatur, bentrokan kendaraan dari arah Ciamis dan Tasikmalaya hampir pasti terjadi.
”Positifnya bisa menjaga arah, jadi lebih tertib. Kalau negatifnya, itu tergantung. Sejauh ini seikhlasnya saja, kalau tidak kasih pun tidak apa-apa,” tambah Sandi, menampik tudingan adanya paksaan.
Trauma “Adu Bagong” di Jalur Sempit
Irfan, rekan perjalanan Sandi, mengamini hal tersebut.
Baginya, pengaturan di jembatan ini bukan sekadar soal uang receh, melainkan nyawa dan keselamatan.
Ia mengaku sempat melihat pengendara yang nyaris jatuh karena kondisi jembatan yang menantang.














