“Kita harus memanfaatkan teknologi dan menciptakan inovasi agar hasil pertanian kita berkualitas tinggi,” tegasnya.
Inovasi dan Wadah Pemuda dan Pertanian Berkelanjutan di Ciamis
Sebagai solusi, Kabupaten Ciamis telah menginisiasi berbagai program, termasuk pembentukan Paguyuban Petani Milenial.
Wadah ini dirancang untuk memperkuat jejaring petani muda di sektor pertanian, mulai dari tanaman pangan hingga peternakan.
Selain itu, edukasi bertani sejak dini telah diterapkan di beberapa wilayah, seperti di Kecamatan Rancah.
“Kita harus mendorong pemuda untuk berinovasi, memanfaatkan teknologi, dan meningkatkan daya saing produk pertanian di pasar global,” jelas Budi.
Pandangan Akademisi: Tantangan Global
Wakil Rektor I Universitas Galuh, Agus Yuniawan Isyanto, memberikan pandangannya terkait isu ini. Ia menyoroti bahwa masalah regenerasi petani tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara maju seperti Eropa dan Amerika.
“Jumlah petani muda terus menurun, sedangkan petani berusia tua semakin banyak. Kondisi ini mengancam keberlanjutan sektor pertanian,” ungkap Agus.
Agus menjelaskan bahwa tanpa keterlibatan generasi muda, sektor pertanian akan sulit berkembang secara maksimal.
Mendorong Aksi Nyata
Seminar ini diharapkan menjadi momentum bagi pemuda untuk aktif berkontribusi dalam pembangunan pertanian berkelanjutan.
Budi Waluya menutup sambutannya dengan ajakan: “Mari kita wujudkan masa depan pertanian yang lebih baik dengan memanfaatkan teknologi dan melibatkan lebih banyak pemuda dalam sektor ini.” pungkasnya.














